..RiZtKa..
Tuesday, March 04, 2008
Kisah ini diberi judul:{Gatel pengen komentar} & Semua terlukis dari ketikan keyboard t!cKa

sebenernya aq ga kaya Mbhow itu yg sering mengkritik hehe..
tp kali ini gatel banget tanganku ga tau knapa pengen aja menumpahkan uneg"..
aq ini seorang pecinta buku, novel, majalah, koran, film, sampe secuil koran bungkus kacang/gorengan sekalipun..
biasanya aq memendam aja dalam hati apa yg aq suka atau apa yg aq ga suka..
nah beberapa waktu lalu tepatnya 26 februari, teman milis tepatnya yg bekerja di penerbitan terkemuka sebut aja Gra***** memposting email yg judulnya Catatan panjang Asma Nadia: Film Ayat-ayat Cinta

awal aq baca.. berasa udah gatel tp kutahan..
trus adikQ mereviewnya juga.. aq seh karena keterpaksaan ga ada bioskop jadi nonton versi bajakannya, terutama karena sangat amat penasaran dengan movie yg udah dr bulan desember th lalu digembar-gemborkan.
aq sendiri udah baca novelnya, punya ebooknya juga.. aq sangat hafal kisah di novelnya..
jadi sebenernya ini film yg udah ketebak jalurnya.
adikQ ini kmaren pas di chat nanya, apakah aq adalah salah satu kontak di Friendlist Asma, kujawab nggak, rupanya adikQ penasaran dengan reviewnya, trus ku forward aja ke email dia.

ini nie yg penasaran ama reviewnya asma (tp aq singkat aja & ku komentari ya.. biar gatelku ilang :D ) oh ya.. aq ga benci ama mbak Asma.. malah aq punya beberapa novelnya dirumah.. cuma aq pengen aja nulis.. ga ada yg nglarang kan?

Alasan apa yang menggerakkan saya, yang selama ini amat sangat selektif menonton film-film lokal, dengan suka rela menyaksikan Ayat-ayat Cinta?Bukan karena saya jatuh cinta pada novel itu. Sejujurnya agak sulit buat saya menikmati novel Ayat-ayat Cinta, yang menurut hemat saya tidak lebih dari kisah cinta biasa, yang dibumbui nilai islam. Poin lebih novel itu bagi saya adalah setting yang disuguhkan dengan meyakinkan oleh Habib, dan wawasan keislamannya
--> Loh bukannya dia juga bikin novel dengan kisah cinta dibumbui nilai islam? aq aja punya beberapa novel / cerita pendek dia

Saya tidak terkesan dengan penokohannya yang cenderung seragam. Tidak pula terkesan dengan alur yang bagi saya biasa saja itu. Saya sulit menerima beberapa logika yang ada.Tetapi saya ikut bahagia bahwa novel itu menjadi bukti keberhasilan seorang penulis muslim, dari Forum Lingkar Pena. Habib, yang bagi saya tidak ubahnya adik itu berhasil membuktikan bahwa novel Islam bisa sangat komersil. Siapa bilang harus mengumbar ketidaksenonohan untuk membuat novel anda dilirik tidak hanya pembaca dalam negeri? Siapa bilang novel menjual ketidakpatutan untuk bisa difilmkan?Setulus hati saya berbahagia dan mengucapkan selamat untuk Habib. Dan sebagai bentuk solidaritas dan sayang saya pula, maka saya anggukan kepala ketika malam itu, kakak saya mengajak saya untuk nonton bareng AAC usai acara di library@senayan bersama Nasanti, Pritha dan Ari.Saya tahu banyak yang pesimis pada usaha memfilmkan sebuah novel. Don't judge the book by its movie! itu yang sering dikatakan orang:) Tetapi ada juga bisik2 yang sampai ke telinga saya, mengatakan film ini ditangan Hanung Bramantyo akan lebih dahsyat dari novelnya, "Menurut Hanung, ini merupakan karya terbaik dia," kata seorang teman lagi. Begitu saja optimisme menyeruak di kalangan sebagian orang.

Novel best seller ditangan sutradara ternama, siapa yang meragukan? Dan di situlah saya, duduk bersisian dengan Pritha mencermati adegan demiadegan dalam film AAC. Saya tahu pasti tidak mudah memeras novel setebal AACmenjadi bahasa visual dengan durasi 2 jam lebih itu. Dan mustahil menyuguhkan selengkap versi buku. Tetapi beberapa film sebutlah Lord of TheRing, Harry Potter, PS. I love you dll, konon meski tidak penuh mewakili setiap detil di filmnya, tetap mendapat sambutan baik. Pendeknya penonton tidak kecewa karena bisa menikmati versi filmnya.

Bagaimana dengan AAC? Film berjalan lambat. Ada sedikit adegan lucu di awal yang sempat membuatbeberapa penonton tersenyum. Tetapi setelahnya film mengalir datar tanpa konflik yang membetot seluruh rasa penasaran dan emosi saya sebagai penontonAAC tidak ubahnya cinta segiempat beda negara, Fahri yang orang Indonesia,dengan Maria Girgis tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik, Fahridengan Nurul-ah yang ini sama2 Indonesia, lalu Fahri dengan Noura (Mesir),dan terakhir Fahri dengan Aisha (German).

Menyaksikan cast satu-satu pemain, saya mulai merasa tidak kuat. Saya merasa usaha sutradara untuk 'membohongi' saya dengan film ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana saya bisa memercayai bahwa Surya Saputra sebagai orang German? Sementara sosoknya (bukan sekadar berkulit putih ya...) kental di ingatan saya sebagai pemain film Indonesia. Saya menolak memercayai Zaskia Mecca sebagai orang Mesir, saya tidak bisa menerima Marini sebagai orang Mesir. Banyak lagi cacat dari segi casting ini...
Sutradara menempatkan pemain2 yang sudah dikenal baik di Indonesia dan berupaya memalsukan' mereka, tidak ubahnya sandiwara-sandiwara atau film-film zaman dulu di mana yang berperan sebagai tentara Belanda adalah pemain dengan tampang Indonesia juga. Parahnya pemeran yang dipilih punya sosok yang kadung kuat di ingatan penonton
--> lha kan kenyataan dr awal untuk menghemat budget pastinya kan dicarikan orang yg dah dihapal ama orang indo, dan pasti bs jd daya tarik tersendiri kan? pasti yg ngefans ama Zaskia, Surya, Rianti akan berbondong" nonton, istilahnya sebagai magnet nya..

Batin saya tersiksa menyaksikan pertemuan Fahri dengan Aisha di kereta.
Ketika seorang penumpang (ceritanya dia 'orang mesir') nyaris berkelahidengan Fahri dan menyebut, "Ya Indonesia!" atau adegan lain ketika Fahri dipenjara... di mana seorang dengan tampang jelas2 Indonesia, bicara dengan bahasa Indonesia, tetapi berperan sebagai bukan orang Indonesia, danmenyebut Fahri dengan "Indonesia!" Jeruk kok minum jeruk... begitulah perasaan saya
--> ini lagi, kenapa coba ga dihayati filmnya, tujuan ga pake bahasa murni Arabic kan biar orang indonya ga kewalahan baca terjemahan seperti subtitle dibawahnya.namanya juga film bikinan org indonesia, lagian susah juga kan lidahnya org indo ngomong pake bhs arab.. apa ga malah bikin kagok?hehehe

Bagaimana dengan sosok Fedi Nurul sebagai Fahri? Dalam salah satu blog saya membaca alasan utama Mas Hanung memilih Fedi: Fahri bukan lelaki sempurna.Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna."Tapi Fahri versi Hanung Bramantyo tidak membuat saya teryakinkan bahwa laki2itu telah menjadi sumber patah hati akut hingga depresi begitu banyak gadis.saya tidak jatuh cinta bahkan tidak juga bisa sekadar menerima alasan kenapa para gadis itu sedemikian terobsesinya pada si Fahri ini?
--> emang perlu yg ganteng banget ya buat bikin cewe tergila-gila,hehe.. cinta kan ga melulu dilihat dr tampang mbak.. aq aja jatuh cinta ama swamiku awalnya dr chatting hehe.. si Fahri kan manis :D

Perlu seseorang yang sangat amat kuat untuk memerankan Fahri hingga penonton teryakinkan. Fahri di sini makin lama makin cengeng... Cara berdirinya,caranya memandang, terutama cara membantahnya terhadap Aisha, yang lebih terlihat sebagai gerutuan anak kecil kepada ibunya, ketimbang protes atau nasihat seorang suami kepada istrinya (adegan makan bersama dengan Aisha,Maria, dan ibunya dengan Fahri, adegan laptop, pertengkaran ketika keluargaNurul datang).
--> yg ini aq agak setuju, rasanya kurang tegas bukan cengeng lho.. sebagai suami kan ga perlu gontok" an ama istri klo mo nasihatin.. atau protes.. bisa aja kan sambil manja" kasi taunya.. lagian betengkar apa enaknya

Logika cerita? Nggak kalah kacaunya. Proses menemukan Noura yang sudah setidaknya belasan atau bahkan 20 tahunan tertukar dari orang tua asli,terjadi secepat kilat. Pertama Fahri meminta tolong seseorang, kemudian simsalabim... tanpa ada proses yang terlihat (make a call perhaps? atau sedikit kesibukan lain sebagai upaya pencarian?) adegan berikutnya adalah Noura bertemu dengan orang tua kandungnya.
--> kan namanya juga film yg ada batas waktunya, masak mau panjang" kaya sinetron yg dirincikan tiap kejadiannya..

Adegan Fahri berta'aruf dengan Aisha pun sulit diterima logika. Bagaimana bisa Fahri yang selama ini saleh dan memiliki konsep tentang soul mate (jodoh) yang sedemikian, juga wawasan keislaman yang mantap, dan karenanya belum juga menikah itu, dengan mudah memutuskan menikahi Aisha hanya beberapa detik setelah Fahri memandang dengan tidak berkedip wajah Aishas etelah membuka cadarnya... Yang membuat saya membatin: fisik sekali...alasan Fahri menikahi Aisha! Tidak ada diskusi, atau surat2an atau upaya mencari tahu dari pihak lain, yang membuat Fahri mengenal cara pandang,kecerdasan, kelebihan2 lain dari Aisha kecuali beberapa pertemuan singkatyang tidak membahas hal2 yang esensi (Aisha jatuh cinta pada wawasan Fahri,oklah ada bbrp lanjaran.. tetapi sebaliknya? Begitu mudah?).
--> duh mbak, emang mesti pacaran dulu beberapa puluh tahun gitu? klo udah cinta.. apapun kan bisa aja terjadi, aq aja yg ga tau siapa calonku dulu .. gimana keluarganya, jujur/boong tentang dia aq juga ga tau.. tapi aq mau aja tuh dilamar dia.. itu karena aq percaya ama Allah SWT yg telah memilihkan dia untukku, walo dia orang asing

Yang lebih meletihkan adalah adegan yang sebagian besar indoor, yang benar2membunuh justru kelebihan utama dari novel ini: setting. Sia-sia berharapbisa melihat keindahan sungai Nil, dan Mesir. Sekalinya ada adegan outdoor,jauh dari romantis malah terkesan norak habis, adalah adegan Fahri berboncengan unta dengan Aisha di padang pasir.
--> yg norak yg mana yah, wajar aja kan boncengan onta.. klo di indo kan boncengan motor hehe

Kekacauan logika lain, yang terlihat amat dipaksakan adalah permintaan Aisha agar Fahri menikahi Maria yang terbaring koma. Fahri yang tidak punya pendirian itu pun (utk orang secerdas dan sebagus itu pemahaman islamnya,gitu lho:P) menurut, hanya sedikit menyampaikan bantahan yang tidak meyakinkan. Btw terlihat dari awal pernikahan dengan Aisha di mata saya Fahri terlihat tak ubahnya suami-suami takut istri :P Dan ajaib, kunjungan sekali Fahri dan pernikahan kilat yang dilakukan ketika Maria sedang koma, pun membangunan Maria dari koma panjangnya. Sungguh luarbiasa!
--> duile.. menurutku.. suami takut istri itu klo suaminya ngerasa salah.. klo ngga salah kenapa harus takut.. apalagi syarat punya istri lagi kan seijin istri pertama..klo istri pertamanya ngasih.. apa yg salah coba?
hehehe..

Secara keseluruhan, film AAC jauh dari proporsional. Di bagian awal-awalyang tanpa konflik mendapat porsi lebih dari yang seharusnya. Sementara adegan penting di mana konflik dimulai (tuduhan terhadap Fahri) dan penyelesaiannya kurang mendapat porsi, hingga meninggalkan ketidakjelasan dibeberapa bagian.Menonton AAC memberikan saya penderitaan yang tidak usai bahkan ketika kami meninggalkan bioskop, dan berkendaraan pulang. Mungkin karena sosok Fahri yang kurang meyakinkan itu lagi, saya sulit menerima potret perempuan yang ditampilkan. Satu perempuan yang terobsesi dan depresi karena cinta tidakbersambut, okelah.
Tapi tiga???
--> dibanding sinetron.. emang seh kebanyakan hehehe.. si Fahri berasa jadi superstar..kegantengan kali ya :D walo di novel ga digambarkan terlalu jelas depresinya cewe" itu

Satu lagi, saya tidak melihat ada penggambaran usaha Fahri mencari nafkah, selain hanya disebutkan dalam kalimat sekilas (Penonton diberitahu, tidak 'ditunjukkan').ketidakterlibatan keluarga Aisha yang kaya ketika Fahri dipenjara, juga sulit diterima, apalagi Fahri terancam hukuman mati. momen yang rasanya amat membutuhkan dukungan keluarga.yang saya tidak mengerti kenapa persoalan teknis (perpindahan adegan) dan editing terasa kasar? Kalah oleh film2 Indonesia yang lain. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dalam film besutan sutradara sekelas Hanung Bramantyo.Terakhir, dengan sebegitu banyak cacat yang membuat film AAC menjadi kisah cinta klise yang membosankan, adakah kebagusan film ini? Ada, salah satunya soundtrack film. Apalagi? Ah, beberapa penonton perempuan cukup mengejutkankami berenam karena mereka ternyata menangis. Tentu saja saya tidak bolehberprasangka buruk bahwa mereka menangis karena sama tersiksanya seperti saya :). Seperti kata seorang teman, "Bisa jadi film itu memang cukup memadai buat sebagian penonton, tahu sendiri selera sebagian besar penonton Indonesia...bisa diukur dari sinetron-sinetron di tivi. Film AAC memang dibuat bukan untuk penonton macam 'kita'", katanya.Bagaimanapun ada beberapa pesan al. ketidak berpihakan Habib pada poligami tertangkap cukup jelas. lainnya AAC jelas jauh lebih sehat dari film2 hantu belakangan ini yang cuma mencari efek menakutkan pembaca dan tidak berisi.Maafkan kejujuran saya jika menyinggung beberapa pihak. Tapi bentuk sayang dan peduli saya kira tidak melulu diekspresikan hanya dengan pujian. Kritik selalu perlu agar kita, bisa memproses diri menjadi lebih baik.
Asma Nadia
http://anadia.multiply.com
lingkarpena.multiply.com
bestarinasyid.multiply.com
--> ya emang karena film durasinya terbatas maka beberapa adegan ga bisa maksimal to mbak..
dan emang dah bisa ditebak dari awal sebagus apapun novel dan serinci apapun novel ga akan terangkum smua dalam film. sekarang coba bayangkan, fungsi seorang istri antara lain mendukung suami dalam keadaan apapun.. klo dah nikah bukan lg 2 orang yg berbeda kan?berdua satu biduk..apalagi ada harta gono gini klo di indonesia, milikku milikmu juga.. klo beda" ya ga usah nikah aja.. masa' itung"an harta.. lucu ah.. trus lagi, penonton menangis karena mereka mungkin ga baca novelnya yg lebih mengaduk perasaan.. ya biar aja to menangis.. aer mata mereka sendiri juga hehehe.. daripada liad sinetron ga mendidik..mending liad AAC.. ada muallaf juga.. sapa tau mengilhami para nonis supaya bisa jadi sodara kita dalam islam..
maaf ya mbak... bukan maksud aq ga suka ama review nya mbak Asma.. tp gatel aja pengen nyolot hehehe..

Labels: ,


terlukis dari ketikan keyboard t!cKa @ 9:23 AM  

Do you know



About..





Recent story



Stories of us



Tell anything



Beloved friends

Powered by..

kk+edek

RizTka's RSS Feedback
IP








Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.comGet awesome blog templates like this one from BlogSkins.comGet awesome blog templates like this one from BlogSkins.com